Minggu, 19 Maret 2017

Jusnalistik : Membedakan 2 artikel dalam tema yang sama dari 2 media yang berbeda

Artikel 1
PKB: Pertemuan SBY dan Jokowi Bikin Adem Suasana

KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Kadir Karding menilai pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sangat berarti bagi masyarakat Indonesia. Apalagi, kedua tokoh tersebut sebelumnya sempat bersitegang sewaktu masa kampanye Pilkada DKI Jakarta.
"Saya kira kita bersyukur beliau berdua bertemu, paling tidak bikin adem suasana, mengubah persepsi publik yang beranggapan bahwa kedua belah pihak berseteru politik. Intinya ini baik bagi bangsa kita," kata Karding melalui pesan singkat, Jumat (10/3/2017).
Hal senada disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal PKBDaniel Johan. Ia menyatakan komunikasi Jokowi dengan SBY sangat penting.
"Pertemuan ini akan semakin mematangkan proses konsolidasi demokrasi dan pembangunan nasional. Sekaligus menepis berbagai isu berita sebelumnya yang banyak beredar yang membuat situasi politik sempat panas, lantas sekarang menjadi teduh," tutur Daniel, melalui pesan singkat.
Ia menambahkan publik tentu senang melihat pertemuan kedua tokoh bangsa itu. Hal itu, lanjut Daniel, sekaligus menjadi teladan bagi publik dalam menyikapi perbedaan pandangan politik.
"Pastinya juga akan menepis berbagai berita sebelumnya yang terlihat agak sindir-menyindir," papar Daniel.
Presiden Joko Widodo mengaku membahas banyak hal dalam pertemuan dengan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono. Pertemuan digelar di Istana Negara, Jakarta, Kamis (9/3/2017) siang.
Awalnya, Jokowi menyampaikan sudah berusaha mengatur pertemuan dengan SBY. Namun, kata dia, padatnya kegiatan dirinya dan SBY membuat jadwal baru bisa digelar Kamis.
"Kita janjian dan ketemu," ucap Jokowi.
Ketika ditanya apa isi pembicaraan tadi, Jokowi mengaku membahas banyak hal.
"Berkaitan dengan politik nasional, ekonomi nasional, diskusi banyak hal," ucap Jokowi.

Penulis

: Rakhmat Nur Hakim
Editor
: Sabrina Asril













Artikel 2

Diduga Agenda Ini yang Membuat Terjadinya Pertemuan Jokowi-SBY


Jum'at,  10 Maret 2017  −  09:26 WIBPresiden Joko Widodo dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berbincang dengan wartawan di beranda belakang Istana Merdeka, Jakarta.

JAKARTA - Pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ‎akhirnya terjadi. Namun pertemuan itu dianggap masih memantik tanda tanya, karena dilakukan secara mendadak.

Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Adi Prayitno menganggap, pertemuan itu memang sangat dinanti publik, termasuk media massa. Sebab, antara Jokowi dan SBY sebelumnya ‎dianggap memiliki 'gap' politik yang dilihat masyarakat.

Menurutnya, ada tiga pendapat untuk mengukur pertemuan antara Presiden dan mantan Presiden ‎yang terbilang 'kurang' akur tersebut. Pertama, tentunya secara normatif pertemuan SBY dan Jokowi dimanfaatkan untuk bertukar gagasan mengenai kondisi politik dan kebangsaan.

‎"SBY sebagai mantan Presiden memberikan masukan untuk pembangunan Indonesia ke depan pada Presiden," tutur Adi saat dihubungi SINDOnews, Jumat (10/3/2017).

Kemudian yang kedua, pertemuan ini tak bisa disangkal sebagai ajang tabayyun (klarifikasi) antara Jokowi dan SBY. Maklum, belum lama ini tudingan 'negatif' kerap dialamatkan kepada SBY, begitu pun sebaliknya. Meski masalah ini belum diketahui secara persis sumbernya.

"Ketiga, terkait kondisi politik mutakhir. Yakni, soal kasus mega korupsi e-KTP dan putaran kedua pilkada DKI jakarta. Faktor ketiga ini menjadi poin paling penting pertemuan kedua tokoh ini," paparnya.

Adi menilai, tekait pengungkapan kasus e-KTP ini, SBY dinilai memiliki kepentingan untuk menjelaskan kepada Jokowi. Sebab, mega korupsi ini berada saat dirinya berkuasa, yang kemudian menyeret sejumlah nama tenar dari kalangan legislatif dan eksekutif.

Adapun kaitan dengan Pilkada DKI Jakarta, partai Demokrat yang dipimpin SBY dinilai menjadi penentu dukungan politik untuk putaran kedua nanti. Dugaan awal Jokowi diberikan mandat oleh PDIP untuk membuka komunikasi secara langsung dengan SBY untuk memenangkan pasangan Basuki-Djarot di putaran kedua.

"Terutama soal kemungkinan Demokrat bisa bergabung utk memenangkan Ahok di putaran kedua. Apalagi sejauh ini demokrat belum menentukan sikap politiknya untuk putaran kedua," pungkasnya. 



(maf)









 


Perbedaan artikel 1 dan artikel 2 adalah :
·         Judul  :
Artikel 1 berfokus pada pendapat Partai PKB megenai pertemuan Jokowi dan SBY sedangkan artikel 2 berfokus pada dugaan penyebab terjadinya pertemuan Jokowi dan SBY. Untuk penggunaan bahasa pada judul artikel 1 terlihat lebih simple, santai, mudah dimengerti dan menarik sedangkan untuk artikel 2 membuat penasaran, tegas tetapi lebih menarik.
·         Pembahasan :
Artikel 1 membahas tentang penilaian Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Kadir Karding tentang pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sangat berarti bagi masyarakat Indonesia sedangkan artikel 2 membahas tentang topik penting yang menyebabkan pertemuan Jokowi dan SBY yaitu kasus mega korupsi e-KTP dan putaran kedua pilkada DKI jakarta menurut Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, yaitu Adi Prayitno.
·         Struktur Berita
Untuk artikel 1 menurut saya menggunakan struktur Piramida terbalik karena topik penting yang dibahas dalam artikel tersebut ada pada kalimat pertama dimana Sekertaris Jendral Partai PKB mengungkapkan pendapatnya tentang pertemuan Jokowi dan SBY sedangkan artikel 2 menggunakan struktur Persegi panjang karena pada awal paragraf terdapat banyak pengantar yang penting dan membuat penasaran terdapat juga pemaparan Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, yaitu Adi Prayitno mengenai pertemuan Jokowi dan SBY melaui poin-poin yang disebutkan walaupun terkesan sedikit bertele-tele tetapi poin tersebut merujuk kepada poin penting yang ada diakhir.
·         Sumber :
Untuk artikel 1 bersumber dari Kompas (www.kompas.com) sedangkan artikel 2 bersumber dari Sindo News (https://www.sindonews.com) .
·         Unsur Berita
Artikel 1 dan artikel 2 sama-sama menggandung unsur Apa.
·         Narasumber

            Narasumber artikel 1 yaitu Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Kadir Karding sedangkan narasumber artikel 2 yaitu Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Adi Prayitno.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar